Hal ini karena seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan di sekolah maupun di tempat lainnya. Selain itu, orang tua memiliki pengaruh paling besar dalam membentuk akhlak, kepribadian, serta arah kehidupan anak.
Manusia memiliki masa paling panjang sebagai anak dibandingkan makhluk Allah lainnya. Masa kanak-kanak adalah masa fitrah, masa kesucian, dan masa awal pembentukan karakter yang belum terkontaminasi oleh keburukan. Oleh karena itu, apabila orang tua bersungguh-sungguh dan fokus dalam mendidik anak sejak dini, maka mereka akan menuai hasil pendidikan tersebut ketika anak telah dewasa. Atas dasar inilah Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan dalam lingkungan rumah tangga.
Perkataan ayah dan ibu, baik berupa nasihat, doa, maupun keteladanan dalam sikap sehari-hari, sangat membekas dalam jiwa anak. Oleh sebab itu, sering kita dapati seseorang yang telah berusia lanjut, bahkan memiliki pendidikan tinggi hingga meraih gelar profesor pun, ketika ditanya tentang latar belakang kesuksesannya, ia menjawab, “Dulu waktu saya kecil, ayah saya pernah berkata begini, ibu saya pernah menasihati saya seperti ini.” Padahal, tidak jarang orangtua mereka dahulu hanya memiliki pendidikan rendah, bahkan ada yang tidak menamatkan sekolah dasar. Namun demikian, pengaruh perkataan dan keteladanan orang tua tetap menjadi fondasi utama dalam perjalanan hidup dan kesuksesan anak. Hal ini menunjukkan betapa besar dan kuatnya peran orang tua dalam pendidikan.
Allah ﷻ menjadikan orang tua, di mata seorang anak, sebagai manusia yang paling mulia di dunia. Sebaliknya, anak pun menjadi buah hati dan belahan jiwa bagi orang tuanya. Demi anak, orang tua rela tidak tidur di malam hari, rela mengorbankan tenaga, waktu, dan harta tanpa pamrih. Orang tualah yang paling memahami kebutuhan anak, paling peka terhadap isyarat dan kondisi batin anaknya. Oleh karena itu, orang tualah yang memikul tanggung jawab paling besar terhadap pendidikan dan masa depan anak, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ﷻ pada hari kiamat.
Dengan demikian, rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orangtua adalah guru pertama dan utama baginya, guru yang tidak pernah pensiun hingga akhir hayat. Apabila rumah berada dalam keadaan yang baik, maka kepribadian anak pun akan terbentuk dengan baik. Ketika pribadi anak baik, rumah tangga akan semakin kokoh, dan pada akhirnya masyarakat pun akan ikut terjaga. Dari rumahlah aqidah, akhlak, cara berpikir, dan kebiasaan hidup pertama kali dipelajari. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa lingkungan keluarga sangat menentukan arah keislaman dan kepribadian seorang anak:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibn Hajar mengomentari hadis diatas:
"يريد أنها تُولد لا جدع فيها، وإنما يجدعها أهلُها
Maksudnya, seorang anak dilahirkan dalam keadaan tidak memiliki cacat (fitrah yang utuh), lalu orang tuanyalah yang menjadikannya cacat. (Fathulbari: Juz:3. H. 250)
Rasulullah ﷺ juga memerintahkan orang tua untuk menanamkan ibadah sejak dini, sebagaimana sabdanya:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”(HR. Abu Dawud)
Selain itu, Allah ﷻ secara tegas memerintahkan para orang tua agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Imam al-Tobari mengutip dalam tafsirnya perkataan Ali bin Abi Talib:
علِّموهم، وأدّبوهم
“Ajarkanlah mereka, dan didiklah (dengan adab)
Atau dalam redaksi lain:
أدّبوهم، علموهم
Didiklah mereka dengan adab terlebih dahulu, kemudian ajarkanlah ilmu kepada mereka.(Tafsir al-Tobari: Juz: 23 H. 491)
Pada prinsipnya bahwa tanggung jawab utama menjaga dan mendidik anak berada di dalam rumah yaitu orangtua, bukan semata-mata diserahkan kepada sekolah atau pesantren. (Adian Husaini, kiat menjadi guru keluarga, h.9) Kesalahan fatal yang banyak terjadi saat ini adalah anggapan bahwa yang sepenuhnya bertanggungjawab mendidik anak adalah guru di sekolah, sementara orang tua merasa cukup dengan memenuhi kebutuhan materi. Akibatnya, karena alasan sibuk mengejar karier dan urusan dunia, sebagian orangtua melalaikan perannya. Anak pun kehilangan sosok ayah dan ibu dalam kehidupannya, sehingga tumbuh tanpa pendampingan yang utuh. Ketika dewasa, tidak jarang mereka menunjukkan sikap durhaka, membangkang, dan menyimpang. Hal ini wajar terjadi karena sejak awal rumah tidak difungsikan sebagai sekolah pertama bagi mereka.
Nabi bersabada:
ما من عبدٍ يسترعيه الله رعيةً يموت يومَ يموت، وهو غاشٌّ لرعيته، إلا حرَّم الله عليه الجنة
Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk mengurus suatu kepemimpinan, lalu ia meninggal pada hari kematiannya dalam keadaan menipu (berkhianat) terhadap rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan baginya surga.”( H.R. al-Bukhari: 6731)
Ibnu Qayyim mengatakan:
من أهمل تعليم ولده ما ينفعه وتركه سدًى فقد أساء إليه غاية الإساءة، وأكثر الأولاد إنما جاء فسادهم من قِبَل الآباء وإهمالهم وترك تعليمهم فرائض الدين وسننه فأضاعوهم صغارًا؛ فلم ينتفعوا بأنفسهم ولم ينفعوا آباءهم كبارًا
“Barang siapa menelantarkan pendidikan anaknya dari hal-hal yang bermanfaat baginya dan membiarkannya terlantar tanpa arahan, maka sungguh ia telah berbuat seburuk-buruk keburukan terhadapnya. Kebanyakan kerusakan anak-anak sesungguhnya datang dari pihak orang tua, karena kelalaian mereka dan karena mereka meninggalkan pengajaran kewajiban-kewajiban agama serta sunnah-sunnahnya. Maka mereka menyia-nyiakan anak-anak itu sejak kecil, akibatnya mereka tidak bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak pula bermanfaat bagi orang tua mereka ketika orang tua itu telah tua.” )Ibnu Qayyim, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hlm. 229)
Anak tidak hanya membutuhkan uang jajan dan fasilitas, tetapi juga kehadiran orangtua berupa waktu, perhatian, pelukan, cerita, nasihat, serta bimbingan spiritual dari ayah dan ibunya.
Sehebat apa pun pendidikan formal yang ditempuh seorang anak, jika dirumah ia tidak dididik langsung oleh orangtuanya, maka pendidikan tersebut tetap berisiko gagal. Anak akan tumbuh tanpa arah dan pegangan hidup yang kuat.
Karena itu, rumah harus kembali menjadi madrasah utama, dan orang tua harus kembali menjadi guru terbaik. Sebab pendidikan anak bukan hanya tentang keberhasilan di dunia, tetapi juga tentang keselamatan di akhirat.
Ladang laweh, 5 januari 2026
Penulis: Dr. Muttaqin, S.Pd.I. M.H